02 April 2009

It Takes Two To Tango

By : CJenz

Pernahkah kamu mengalami ‘sex on the first date’ atau bahkan ‘sex on the first BLIND date’, lalu kamu merasa menyesal dan berkata, “Oh My God, what just I’ve done?” atau “Sorry, It’s just happened.”. Jika ya, maka berhentilah menyesal dan menyalahkan diri sendiri atau bahkan menyalahkan partner kamu.
Suatu siang aku menghadiri undangan makan siang bersama seorang English Gentleman di Satoo Restaurant, Hotel Shangrilla. Ini kali pertama aku bertemu dengan orang ini, dan ia hanya punya waktu dua hari dalam rangka business trip, oleh karena itu aku menyanggupi ajakan lunch-nya di tengah – tengah jadwalnya yang padat. Kalimat pertama yang muncul di kepala-ku ketika ia muncul di ujung eskalator adalah “ Damn, he’s handsome!”. Lalu obrolan mengalir seiring kontak mata yang saling mengagumi satu sama lain, terasa seru dan tidak ada kesan membosankan apalagi ditemani Indian food and dessert yang handal dari Satoo. Kami saling bertukar cerita dan lucunya rata- rata pria Inggris sangat menghargai wanita sehingga kebanyakan waktu ia mengatakan “Women always the first” atau “Women decide”, mungkin saja hanya untuk membuatku terkesan, well kalau memang itu tujuannya, he did impressed me.
Usai makan siang ia mengajakku menikmati Moet & Chandon DOM Perignon 1999 di kamarnya. “Champagne yang berkelas”, gumanku dalam hati. Ia membiarkan tirai terbuka menikmati view swimming pool dari lantai 26, sementara rintik- rintik hujan mulai turun. Kami duduk mengobrol dan pada gelas ke-tiga, tiba – tiba ia mendaratkan ciumannya di bibirku. Begitu lembut penuh perasaan, menit ke menit berlalu sampai aku menyadari ia seorang ‘good kisser’ karena telah berhasil membuatku menikmati setiap ulasan bibirnya. Aku masih mematung saat ia membelai leherku dengan gerakan semakin rendah lalu..... (you know what!), we had ...
The best part is after he cum, he hug me deeply then he said “You’re sexy”. Tapi sedetik kemudian mata hijaunya menatapku lekat – lekat dan berkata, “I didn’t expect this to happen.”. Langsung saja otak-ku mulai bekerja dan sadar dari kenikmatan di awang – awang, “What just I’ve done?!” gumanku pelan hampir tak terdengar. Bodohnya lagi, reflek aku berkata “Sorry” padanya. Ia mencium keningku sebagai balasan, “hey, no need to sorry, it takes two to tango.” Ia meyakinkanku dengan tatapannya.
Kalau dipikir – pikir ada benarnya juga, dalam hal Sex yang tidak direncanakan, tidak ada istilah menyalahkan salah satu pihak, karena pada dasarnya “It Takes Two To Tanggo”. Butuh dua orang dengan kebutuhan dan gairah yang sama untuk berhubungan sex. Itu sebabnya kita tidak bisa men-judge atau menyalahkan salah satu pihak saja. Coba tanya pada diri kita sendiri dan jangan menyesalinya. But always remember Safe Sex please...
End.

No comments:

Quote of This Month!

Do Your Best or Do Nothing!!!