By : CJenz
Keheningan ruang Burgundy sebuah lounge di bilangan Thamrin menyambutku ramah. Nuasansa ungu dengan cahaya kuning remang berpendar di sekeliling ruangan. Aku duduk menanti di sofa merah, tak ada keramaian pengunjung lain, hanya segelintir orang di pojok ruangan. Mataku sedang menyapu goresan tinta yang ada di buku menu, ketika sosok tinggi langsing berdiri di sampingku. Matanya begitu indah, tatapannya tajam serasa menelanjangiku bulat- bulat, tak kuasa aku membalas tatapannya lebih dari lima detik. Senyumannya tak seindah bola matanya, tapi manis, ia menyalamiku dan duduk di hadapanku. Kata demi kata meluncur bebas, kalimat demi kalimat terangkai menjadi cerita yang mengalir diwarnai tawa. Suasana terasa hangat di tengah dinginnya AC yang menghambur dari langit – langit ruangan. Nyaman, relaks terbaca dari luwes geakannya, aku-pun merasakan aura santai menyelimutiku. Ditemani segelas Lychee Martini, obrolan seru menyita hampir seluruh jam makan malam. Semua hal dalam hidup menjadi topik menarik bagi lidah- lidah kami yang berakhir pada gelas ke-empat Whisky Cola-nya habis hingga tegukan terakhir jatuh dalam rongga tenggorokan D. Kami berpisah di lift, dalam hening di balok berukuran 4x4x3 hanya ada aku dan D saling membisu, sesekali saling mencuri pandang, ada gejolak gairah terpendam yang tertahan, seperti letup – letup larva yang ingin keluar dari mulut gunung berapi. “Ding”, pintu lift terbuka menandakan saatnya untuk berpisah, hanya ciuman sekilas bisinya menyentuh pipiku. Malam telah menjemput jumat sore-ku nan indah. Setelah hari itu, sosok D timbul tenggelam dalam hari – hari ku.
Zaman telah maju, teknologi semakin berkembang pesat sehingga membuat semua pertannyaan dapat terjawab dengan “Google”. Iseng – iseng aku mengetik namanya, sederet website berisi namanya muncul, tidak cuma 1 halaman, tapi 50 halaman. Dari sana terbuka jati dirinya, sosok tampan berahang kokoh dengan garis muka keras yang tidak bosan untuk dipandang, adalah seorang anak pengusaha terkenal berdarah campuran yang mewarisi beberapa line bisnis yang sedang dikelola-nya. Pemain besar sebagai supplier untuk industri hospitality dan juga juragan di bidang property, pengusaha yang bisnisnya tidak hanya berada di lintas nusantara saja tapi lintas benua. Seorang dermawan yang masuk dalam sederet daftar aksi kegiatan sosial termasuk donor darah, dan seorang vegetarian.
Kagum adalah kata yang tepat untuk menggambarkan penemuannku akan sosoknya. Handsome, charming, cool, sexy, good in bed, wealthy, fun, friendly, down to earth, busy but still loveable, everything u name it, intinya D punya segala kualitas untuk menjadi top of the top hunk incaran semua wanita. Tapi sayangnya..... Pintu hati D telah terkunci rapat, api suci telah tujuh kali dikelilinginya bersama sang putri pilihan dan telah diberikan sosok kecil dari Sang Pencipta. Hidup sempurna ada di genggamannya, sampai terkadang aku bertanya – tanya pada diriku sendiri, apakah hidupnya seringan kapas, bahagia tanpa masalah?
Aku dan D sering bersua walau kebanyakan waktu hanya di dunia maya, untuk mengobrol tentang apa saja, namun yang tak pernah luput adalah masalah hubungan dan seks yang selalu menjadi pencariannya. Tanpa beban bagaikan air mengalir, D membuaiku melalui kisah hidupnya termasuk hubungan intimnya dengan beberapa wanita di seluruh dunia. Dan hubungannya denganku? I’m one of his girls... Hanya untuk seks itu jelas. Tanpa ada perasaan cinta itu jelas. Safe sex itu jelas & pasti. Aku dan dia having affair?, sama sekali tidak. Aku dan dia sebatas fling itu jelas. So what is D want from me? Friendship and Fling itu sangat obvious. Panggilan sayang , babe, sweety, gorgeous, lovely sudah menjadi makanan-ku sehari –hari yang disuguhkan D. Angan –angan, godaan – godaan kecil, khayalan- kayalan bercinta tak lepas dari topik yang mendekatkan kami yang berbuah pengharapan tak jelas. Ada rasa rindu saat saling tak ada kabar, ada rasa berdebar saat janji bertemu, ada rasa nyaman saat obrolan mengalir. Tapi semua terasa semu untukku. D is touchable namun tetap unreachable. Aku bisa menjadi wanita paling bahagia mereguk romantisme sesaat dengan keintiman paling panas dengan D, namun tetap he’s unreachable. Ingin kuakhiri, namun kala mata indah itu menatapku tulus, aku tau ia menghargaiku dan menghormatiku sebagai teman bukan sebagai objek seks belaka.
End.
Keheningan ruang Burgundy sebuah lounge di bilangan Thamrin menyambutku ramah. Nuasansa ungu dengan cahaya kuning remang berpendar di sekeliling ruangan. Aku duduk menanti di sofa merah, tak ada keramaian pengunjung lain, hanya segelintir orang di pojok ruangan. Mataku sedang menyapu goresan tinta yang ada di buku menu, ketika sosok tinggi langsing berdiri di sampingku. Matanya begitu indah, tatapannya tajam serasa menelanjangiku bulat- bulat, tak kuasa aku membalas tatapannya lebih dari lima detik. Senyumannya tak seindah bola matanya, tapi manis, ia menyalamiku dan duduk di hadapanku. Kata demi kata meluncur bebas, kalimat demi kalimat terangkai menjadi cerita yang mengalir diwarnai tawa. Suasana terasa hangat di tengah dinginnya AC yang menghambur dari langit – langit ruangan. Nyaman, relaks terbaca dari luwes geakannya, aku-pun merasakan aura santai menyelimutiku. Ditemani segelas Lychee Martini, obrolan seru menyita hampir seluruh jam makan malam. Semua hal dalam hidup menjadi topik menarik bagi lidah- lidah kami yang berakhir pada gelas ke-empat Whisky Cola-nya habis hingga tegukan terakhir jatuh dalam rongga tenggorokan D. Kami berpisah di lift, dalam hening di balok berukuran 4x4x3 hanya ada aku dan D saling membisu, sesekali saling mencuri pandang, ada gejolak gairah terpendam yang tertahan, seperti letup – letup larva yang ingin keluar dari mulut gunung berapi. “Ding”, pintu lift terbuka menandakan saatnya untuk berpisah, hanya ciuman sekilas bisinya menyentuh pipiku. Malam telah menjemput jumat sore-ku nan indah. Setelah hari itu, sosok D timbul tenggelam dalam hari – hari ku.
Zaman telah maju, teknologi semakin berkembang pesat sehingga membuat semua pertannyaan dapat terjawab dengan “Google”. Iseng – iseng aku mengetik namanya, sederet website berisi namanya muncul, tidak cuma 1 halaman, tapi 50 halaman. Dari sana terbuka jati dirinya, sosok tampan berahang kokoh dengan garis muka keras yang tidak bosan untuk dipandang, adalah seorang anak pengusaha terkenal berdarah campuran yang mewarisi beberapa line bisnis yang sedang dikelola-nya. Pemain besar sebagai supplier untuk industri hospitality dan juga juragan di bidang property, pengusaha yang bisnisnya tidak hanya berada di lintas nusantara saja tapi lintas benua. Seorang dermawan yang masuk dalam sederet daftar aksi kegiatan sosial termasuk donor darah, dan seorang vegetarian.
Kagum adalah kata yang tepat untuk menggambarkan penemuannku akan sosoknya. Handsome, charming, cool, sexy, good in bed, wealthy, fun, friendly, down to earth, busy but still loveable, everything u name it, intinya D punya segala kualitas untuk menjadi top of the top hunk incaran semua wanita. Tapi sayangnya..... Pintu hati D telah terkunci rapat, api suci telah tujuh kali dikelilinginya bersama sang putri pilihan dan telah diberikan sosok kecil dari Sang Pencipta. Hidup sempurna ada di genggamannya, sampai terkadang aku bertanya – tanya pada diriku sendiri, apakah hidupnya seringan kapas, bahagia tanpa masalah?
Aku dan D sering bersua walau kebanyakan waktu hanya di dunia maya, untuk mengobrol tentang apa saja, namun yang tak pernah luput adalah masalah hubungan dan seks yang selalu menjadi pencariannya. Tanpa beban bagaikan air mengalir, D membuaiku melalui kisah hidupnya termasuk hubungan intimnya dengan beberapa wanita di seluruh dunia. Dan hubungannya denganku? I’m one of his girls... Hanya untuk seks itu jelas. Tanpa ada perasaan cinta itu jelas. Safe sex itu jelas & pasti. Aku dan dia having affair?, sama sekali tidak. Aku dan dia sebatas fling itu jelas. So what is D want from me? Friendship and Fling itu sangat obvious. Panggilan sayang , babe, sweety, gorgeous, lovely sudah menjadi makanan-ku sehari –hari yang disuguhkan D. Angan –angan, godaan – godaan kecil, khayalan- kayalan bercinta tak lepas dari topik yang mendekatkan kami yang berbuah pengharapan tak jelas. Ada rasa rindu saat saling tak ada kabar, ada rasa berdebar saat janji bertemu, ada rasa nyaman saat obrolan mengalir. Tapi semua terasa semu untukku. D is touchable namun tetap unreachable. Aku bisa menjadi wanita paling bahagia mereguk romantisme sesaat dengan keintiman paling panas dengan D, namun tetap he’s unreachable. Ingin kuakhiri, namun kala mata indah itu menatapku tulus, aku tau ia menghargaiku dan menghormatiku sebagai teman bukan sebagai objek seks belaka.
End.
No comments:
Post a Comment