By : CJenz
Terkadang dalam suatu hubungan percintaan walaupun dari namanya saja sudah ada memakai embel – embel kata cinta alias pacaran atau married, tetap saja cinta itu sendiri tidak cukup untuk mempertahankan hubungan cinta tersebut. Memulai sebuah hubungan memang mudah, namun untuk me-maintain itu yang sulit sadar atau tidak sadar sehingga tak jarang berujung pertengkaran atau perselingkuhan, intinya berbuah masalah.
Tak sengaja saat aku menonton televisi, ada salah satu reality show baru yang ditayangkan di sebuah stasiun TV swasta RCTI berjudul “Masihkah Kau Mencintai Aku” yang mengulas mengenai permasalahan yang terjadi antara suami istri dalam rumah tangga. Dari cuplikannya sang istri menunjuk – nunjukan jarinya kepada sang suami dengan emosi mengatakan bahwa ia telah menjadi istri yang baik, memasak, menyiapkan segala seuatu untuk suaminya namun suaminya malah cuek. Sedangkan sang suami berkata bahwa ia mencari uang semata- mata untuk istrinya. Lalu sang istri berkata bahwa ia tidak sudi tinggal serumah dengan suaminya lagi karena suaminya kotor. Kira – kira begitulah cuplikannya, memang aku tak pernah menonton acaranya, namun asumsiku mengatakan bahwa suaminya berselingkuh.
Well, sebenarnya mengapa perselingkuhan itu dapat terjadi dalam hubungan cinta? Bukankah atas nama cinta juga dua insan memutuskan bersama? Apakah ini menjadi bukti bahwa dalam suatu hubungan percintaan, cinta saja tidak cukup sebagai sebagai landasan atau dasar atau fondasi? Banyak diantara teman – teman pria aku yang telah menikah dan memiliki anak, sekilas mereka nampak seperti keluarga harmonis dan bahagia tetapi di belakang itu mereka tetap berselingkuh, baik dengan cara memiliki ‘TTM” (teman tapi mesra) atau hanya sebatas untuk have sex only. Waktu aku tanya mereka, jawabannya sangat simple seperti, family still number one, hubungan sex dengan sang istri masih jalan minimal seminggu sekali, mereka sangat mencintai istri dan keluarga. Lalu kenapa?! Mereka-pun tidak bisa menjawabnya.
Mungkin bagi sebagian besar pria tidak membutuhkan alasan untuk berselingkuh, lain halnya dengan wanita yang membutuhkan pergolakan batin untuk memutuskan berselingkuh. Terabaikan sering menjadi alasan utama pemicu perselingkuhan, sama seperti juga pria yang merasa kesepian apabila sang istri lebih memusatkan perhatian pada urusan anak dan rumah tangga atau kegiatan – kegiatan lain seperti arisan atau bahkan pekerjaan, maka istripun bisa merasa terabaikan jika suaminya lebih senang mengurusi pekerjaannya alias workalholic yang dilanjutkan dengan acara kumpul- kumpul dengan teman- teman kantor. Cinta mungkin menjadi alasan utama untuk mengikat janji hidup bersama namun butuh saling perhatian, saling pengertian, komunikasi, keintiman (sex), serta uang untuk membuat segalanya lengkap.
Dari cerita – cerita mereka saya mulai memahami satu hal, selingkuh tidak selalu berarti rasa cinta itu pudar atau tidak cinta lagi, namun lebih kepada hanya sebagai pelarian untuk mencari sesuatu yang tidak terpenuhi atau yang pernah terpenuhi lalu karena terbiasa lama – lama menjadi hilang. Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia tidak dapat hidup dengan cinta saja, begitu pula suatu hubungan tidak akan berjalan mulus hanya dengan mengandalkan cinta semata. Komunikasi menjadi hal yang sangat krusial dibarengi dengan kejujuran kedua belah pihak dalam membuka diri dan mengutarakan keinginan masing – masing untuk membuat diri mereka atau hubungan mereka dalam zona nyaman yang berunjung kebahagian. Kurasa omong kosong suatu hubungan percintaan dapat survive hanya dengan cinta itu sendiri seperti dalam kisah Romeo dan Juliet.
End.
Terkadang dalam suatu hubungan percintaan walaupun dari namanya saja sudah ada memakai embel – embel kata cinta alias pacaran atau married, tetap saja cinta itu sendiri tidak cukup untuk mempertahankan hubungan cinta tersebut. Memulai sebuah hubungan memang mudah, namun untuk me-maintain itu yang sulit sadar atau tidak sadar sehingga tak jarang berujung pertengkaran atau perselingkuhan, intinya berbuah masalah.
Tak sengaja saat aku menonton televisi, ada salah satu reality show baru yang ditayangkan di sebuah stasiun TV swasta RCTI berjudul “Masihkah Kau Mencintai Aku” yang mengulas mengenai permasalahan yang terjadi antara suami istri dalam rumah tangga. Dari cuplikannya sang istri menunjuk – nunjukan jarinya kepada sang suami dengan emosi mengatakan bahwa ia telah menjadi istri yang baik, memasak, menyiapkan segala seuatu untuk suaminya namun suaminya malah cuek. Sedangkan sang suami berkata bahwa ia mencari uang semata- mata untuk istrinya. Lalu sang istri berkata bahwa ia tidak sudi tinggal serumah dengan suaminya lagi karena suaminya kotor. Kira – kira begitulah cuplikannya, memang aku tak pernah menonton acaranya, namun asumsiku mengatakan bahwa suaminya berselingkuh.
Well, sebenarnya mengapa perselingkuhan itu dapat terjadi dalam hubungan cinta? Bukankah atas nama cinta juga dua insan memutuskan bersama? Apakah ini menjadi bukti bahwa dalam suatu hubungan percintaan, cinta saja tidak cukup sebagai sebagai landasan atau dasar atau fondasi? Banyak diantara teman – teman pria aku yang telah menikah dan memiliki anak, sekilas mereka nampak seperti keluarga harmonis dan bahagia tetapi di belakang itu mereka tetap berselingkuh, baik dengan cara memiliki ‘TTM” (teman tapi mesra) atau hanya sebatas untuk have sex only. Waktu aku tanya mereka, jawabannya sangat simple seperti, family still number one, hubungan sex dengan sang istri masih jalan minimal seminggu sekali, mereka sangat mencintai istri dan keluarga. Lalu kenapa?! Mereka-pun tidak bisa menjawabnya.
Mungkin bagi sebagian besar pria tidak membutuhkan alasan untuk berselingkuh, lain halnya dengan wanita yang membutuhkan pergolakan batin untuk memutuskan berselingkuh. Terabaikan sering menjadi alasan utama pemicu perselingkuhan, sama seperti juga pria yang merasa kesepian apabila sang istri lebih memusatkan perhatian pada urusan anak dan rumah tangga atau kegiatan – kegiatan lain seperti arisan atau bahkan pekerjaan, maka istripun bisa merasa terabaikan jika suaminya lebih senang mengurusi pekerjaannya alias workalholic yang dilanjutkan dengan acara kumpul- kumpul dengan teman- teman kantor. Cinta mungkin menjadi alasan utama untuk mengikat janji hidup bersama namun butuh saling perhatian, saling pengertian, komunikasi, keintiman (sex), serta uang untuk membuat segalanya lengkap.
Dari cerita – cerita mereka saya mulai memahami satu hal, selingkuh tidak selalu berarti rasa cinta itu pudar atau tidak cinta lagi, namun lebih kepada hanya sebagai pelarian untuk mencari sesuatu yang tidak terpenuhi atau yang pernah terpenuhi lalu karena terbiasa lama – lama menjadi hilang. Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia tidak dapat hidup dengan cinta saja, begitu pula suatu hubungan tidak akan berjalan mulus hanya dengan mengandalkan cinta semata. Komunikasi menjadi hal yang sangat krusial dibarengi dengan kejujuran kedua belah pihak dalam membuka diri dan mengutarakan keinginan masing – masing untuk membuat diri mereka atau hubungan mereka dalam zona nyaman yang berunjung kebahagian. Kurasa omong kosong suatu hubungan percintaan dapat survive hanya dengan cinta itu sendiri seperti dalam kisah Romeo dan Juliet.
End.
No comments:
Post a Comment